Pemuda dan identitasnya dalam peranan didunia perguruan dan
pendidikan
Perilaku pemuda sangat rentan dengan kondisi
dimana dia berada dan beraktifitas. Karena masa remaja yang dimiliki pemuda
adalah masa dimana seorang pemuda menemukan jati dirinya. Dalam menemukan jati
dirinya berpengaruh kepada dimana dia tinggal dan dimana dia beraktifitas.
Banyak kekosongan waktu yang di miliki oleh seorang pemuda dalam mencari
identitas dirinya. Dalam kekosongan waktu yang dimiliki seorang pemuda biasanya
pemuda melakukan aktifitas yang disukainya atau hanya sekedar bermain saja.
Pada masa remaja seorang pemuda, pemuda memiliki
kebiasaan tanpa moral atau tanpa hukum, pada kebiasaan ini akan mendorong
seorang pemuda untuk melakukan pelangaran pelangaran hukum kecil nantinya.
Untuk mencegah perilaku perilaku menyimpang di perlukan masyarakat yang peduli
terhadap pemuda yang masih belum menemukan identitasnya dengan cara mengajaknya
untuk tidak melakukan penyimpangan penyimpangan kecil. Karena dari penyimpangan
kecil ini akan berpengaruh terhadap baik buruknya identitas dari seorang pemuda
nantinya. Dari penyimpangan penyimpangan kecil dapat berakibat kepada
penyimpangan penyimpangan besar yang sudah masuk dalam pelanggaran hukum yang
berat.
Ketika si pemuda mendapatkan identitas yang
buruk, dapat di perbaiki sebelum perilaku buruknya menjadi pelanggaran norma
norma dan hukum. Dengan cara meninggalkan kebiasaan buruknya dan mencoba
memulai kebiasaan baik, dalam hal ini teman menjadi pengaruh yang besar pula.
Ketika si pemuda mempunyai identitas yang buruk, sebaiknya si pemuda berteman
dengan orang orang yang mempunyai perilaku yang baik. Sehingga dapat menjadikan
pengaruh untuk si pemuda itu untuk menjadikan identitas buruknya menjadi baik
dan tidak melanggar norma-norma.
Saat
ini, tidak sedikit para generasi muda yang mulai berbaur dengan masyarakat lain
untuk mempraktikan apa yang sudah dia dapatkan dan pelajari di bangku kuliah,
namun tidak banyak juga para pemuda yang sudah mengenyam dunia pendidikan namun
belum benar-benar mempraktikan ilmu yang sudah didapatnya sesuai dengan amanat
Undang-Undang Dasar 1945 khususnya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan
serta akhlak mulia. Hal ini sudah tercantum dalam UU Nomor 23 Tahun 2003 yang
menyatakan untuk mengembangkan potensi diri anak didik agar memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, kecerdasan,
dan keterampilan. Undang-Undang Dasar tersebut dengan jelas menyebutkan
bahwa tujuan pendidikan bukan saja untuk menjadikan peserta didik pandai,
cerdas, dan terampil saja, tetapi lebih dari itu menjadikannya manusia
seutuhnya yang memiliki kecerdasan dan kemampuan intelektual, emosional dan
spiritual. Dengan kemampuan tersebut, diharapkan akan sukses dimanapun berada
karena segala gerak langkahnya didasarkan pada nalar atau pemikiran yang
tinggi, emosi yang terkendali dan motivasi yang kuat, keyakinan yang besar dan
suara hati nurani yang bersih.
Namun
praktik pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya memenuhi semua yang
diamanatkan UUD maupun UU tentang Sistem Pendidikan Nasional. Contohnya bisa
dilihat dari ujian nasional yang hanya menguji tiga mata ajaran yang tidak
menyinggung masalah iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hasil
pendidikan pada saat ini nampaknya juga belum “siap pakai” karena belum dapat
memenuhi tuntutan pasar kerja.
Ada hal
lain yang perlu mendapat perhatian dalam pendidikan yaitu perlunya pemahaman
dan penghayatan terhadap Pancasila yang saat ini nampaknya kurang mendapatkan
perhatian serius. Pemuda dan semua anak didik harus memiliki keyakinan yang
kuat bahwa Pancasila dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan
bentuk final yang harus dijaga kelestariannya, meyakini akan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila, dan harus menjadi landasan dari semua pilar-pilar
dimensi yang lain.
Contoh
kasus :
Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia, Ajang
Meneliti Sejak Dini
Wakil Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan (Wamendik) Musliar Kasim, membuka
Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tahun 2013. Pembukaan dilakukan di
Gedung D Kemdikbud, Rabu (23/10/2013). OPSI akan berlangsung 21-27 Oktober
2013. Wamendik Musliar
menyampaikan kebanggaannya kepada seluruh peserta OPSI. Menurut dia, poster dan
materi penelitian para siswa tersebut tidak kalah dengan poster dan materi
penelitian mahasiswa, bahkan dosen. Penelitian, kata dia, harus
ditumbuhkembangkan sedini mungkin. "Tidak
ada temuan yang berarti kalau tidak dimulai dengan penelitian," katanya.
Musliar juga menyinggung kurikulum 2013 yang telah diluncurkan Juli lalu. Dalam kurikulum tersebut, kata Dia, tujuan utamanya adalah menciptakan generasi yang kreatif, afektif, kognitif, dan inovatif. Untuk inovatif, perlu dikembangkan dengan penelitian.Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Ahmad Jazidie, melaporkan bahwa OPSI merupakan kegiatan rutin sebagai bagian dari ikhtiar Kemdikbud untuk membangkitkan kecintaan para peserta didik pada dunia penelitian. OPSI kali ini diikuti oleh 204 peserta SMA, 66 guru pendamping, 25 tim juri, dan 40 panitia. Adapun bidang penelitian yang dilombakan adalah sains dasar yang terdiri dari matematika, fisika, kimia, dan biologi; sains terapan yang terdiri dari elektronika/mesin, pertanian, kesehatan, lingkungan, informatika/komputer; dan IPS/humaniora yang terdiri dari ekonomi, bahasa, psikologi/pendidikan, sejarah, budaya, dan humaniora.
Musliar juga menyinggung kurikulum 2013 yang telah diluncurkan Juli lalu. Dalam kurikulum tersebut, kata Dia, tujuan utamanya adalah menciptakan generasi yang kreatif, afektif, kognitif, dan inovatif. Untuk inovatif, perlu dikembangkan dengan penelitian.Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Ahmad Jazidie, melaporkan bahwa OPSI merupakan kegiatan rutin sebagai bagian dari ikhtiar Kemdikbud untuk membangkitkan kecintaan para peserta didik pada dunia penelitian. OPSI kali ini diikuti oleh 204 peserta SMA, 66 guru pendamping, 25 tim juri, dan 40 panitia. Adapun bidang penelitian yang dilombakan adalah sains dasar yang terdiri dari matematika, fisika, kimia, dan biologi; sains terapan yang terdiri dari elektronika/mesin, pertanian, kesehatan, lingkungan, informatika/komputer; dan IPS/humaniora yang terdiri dari ekonomi, bahasa, psikologi/pendidikan, sejarah, budaya, dan humaniora.
Tanggapan :
Meurut saya ajang olimpiade seperti
ini bisa dijadikan alat untuk menunjukkan kepada dunia luas bahwa siswa-siswa
Indonesia pun ternyata juga bisa membuat bahkan menghasilkan sesuatu yang
mungkin bisa diterima didunia internasional, dan ajang ini pula bisa memberi
tahu dunia bahwa siswa-siswa Indonesia adalah siswa-siswa yang pintar dan dapat
bersaing di dunia luar nantinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar